<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=3947423&amp;blogName=..%3A%3A%7C%7C+ichoel+%7C%7C%3A%3A...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fichoel.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=it_IT&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fichoel.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

domenica, maggio 21, 2006

Karena

Aku mencintai kamu, tapi tak akan pernah berlebih...
Aku menyayangi kamu, tapi tak akan pernah berlebih...
Aku merindukan kamu, tapi tak akan pernah berlebih...
Yah begitulah...
Karena aku tahu tak akan ada yang abadi
Aku berharap kamu pun demikian
Andai kita memang bersatu, itu keinginan dan takdir
Tak perlu ada yang dicemaskan
Masa lalu tak akan kembali
Masa depan akan terus menjadi misteri
Karena saat ini lah kita hidup

martedì, aprile 11, 2006

Buruh

Kaum buruh, di mana pun, sedang ramai memprotes revisi Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Mereka sepakat revisi hanya akan membuat hidup buruh makin terjepit di jaman paceklik seperti ini.

Banyak poin yang mereka soroti dari draf revisi tersebut. Beberapa di antaranya ketentuan uang pesangon yang hanya akan diberikan bagi mereka yang punya gaji di bawah Rp 1,1 juta per bulan. Jatah cuti yang dipangkas dan jaminan uang kesehatan.

Mereka merasa telah didzolimi. Pemerintah hanya memikirkan kepentingan para pengusaha dan mengabaikan hak-hak para buruh. Pantas saja para buruh sakit hati.

Empat hari silam, ribuan buruh turun ke jalan. Meski tak bertemu Presiden SBY yang sedang ke Korsel, akhirnya mereka diterima Wapres Jusuf Kalla yang kebetulan sedang tidak ke mana-mana. Wapres berjanji akan memperhatikan nasib mereka dan memang pada akhirnya pemerintah mau mengkaji draf revisi itu, tak akan cepat-cepat diserahkan ke DPR.

Senang juga mendengar keputusan pemerintah yang masih mau memperhatikan keluhan wong kecil. Dalam hati, saya ngabatin, perjuangan mereka berhasil meski nantinya belum tentu juga memuaskan.

Kalau mau jujur, sebenarnya nasib saya tak beda jauh dengan para buruh. Sama-sama terjepit di dalam sistem yang rusak. Bedanya mereka berani berjuang, sementara saya hanya diam. Tak ada usaha apa pun untuk merubah keadaan. Sedih rasanya.

giovedì, marzo 09, 2006

Bingung

Kelotokan. Kayak gitu mungkin anak-anak Liputan6.com menyebutkan keberadaan saya di komunitas ini. Yah, abis mau gimana lagi, kenyataannya memang sudah lima tahun lebih sebagian besar waktu saya dihabiskan di ruang "redaksi" Liputan6.com. Bayangkan, 12 jam dalam sehari, meski kadang-kadang diselingi tidur, chating, dan ngeliat-ngeliat gambar yang katanya tabu.

Bukan waktu yang sebentar, memang. Banyak banget deh yang udah saya rasakan di sini. Seneng, sedih, kecewa...wah, pokoknya rupa-rupa deh. Tapi di balik semua warna yang ada di dapur Liputan6.com, ada satu keinginan, tepatnya harapan yang sampai sekarang masih belum juga terealisasi. "Pengen banget rasanya jadi karyawan".

Mungkin, setelah lima tahun lebih, sebentar lagi harapan itu akan jadi nyata. 19 Februari 2005, saya sudah mengikuti tes wawancara di HRD SCTV. Tes itu adalah rangkaian dari sejumlah proses yang saya harus lalui sebelum akhirnya dinyatakan layak atau tidak menjadi karyawan SCTV. Sebab, ke depan masih ada tes psikotes dan kesehatan. Aneh memang, sudah lima tahun lebih bekerja di lingkungan SCTV kok masih harus melewati berbagai proses lagi. Tapi, biarlah.

*****

"Mas Awang, kalo bisa ntar ngadep Mas Toto. SCTV lagi butuh koresponden untuk Jakarta Barat. Nah, elo disuruh nemuin dia," begitu suara di ujung telepon, pagi tadi.

Mak teg rasanya di dada. Emang masih belum pasti juga sih, tapi pikiran di otak, "Ambil gak...ambil gak...ambil gak". Sebelumnya saya memang pernah masukin lamaran untuk jadi koresponden SCTV untuk daerah Depok, tapi tidak ada balasan. Belakangan saya tahu posisi itu sudah diisi orang lain. "Kesempatan nih," batinku.

Masalahnya, sekarang saya dan kru Liputan6.com lainnya sudah mulai menjalani proses prekrutan untuk menjadi karyawan SCTV. Bingung banget jadinya. Konsentrasi jadi pecah juga nih. Bukan serakah loh, tapi sejujurnya saya kepingin juga menjadi koresponden. Sementara, meninggalkan proses perekrutan yang tengah berjalan rasanya bagaimana juga. Huh...

"Gua pikir-pikir dulu ya. Terus terang gua bingung nih".

"Berat juga emang. Ini masalah pilihan. Kalo bisa sih mikirnya jangan lama-lama, ntar kesempatan ini keburu diambil orang lain lagi," jawab suara di ujung telepon lagi.

*****

Yah...saya memang harus memutuskan. Tapi, saya harus tenang. Sebab, dua pilihan yang ada itu tetap memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Saya harus jernih memutuskannya.

lunedì, maggio 26, 2003

Sakit

Sakit..! Kayaknya sih manusiawi banget. Masa sih ada orang yang ga pernah sakit. Mesin aja kalo dah kepanasan bisa bonjrot, dan butuh istirahat juga. Jadi suka bingung kalo ada orang sakit terus masih juga digelayutin ama berbagai was-was. Kasian. Soalnya, kalo mo jujur, si sakit juga ga pengen sakit.

Nah, kalo gua..kalo lagi sakit sih pengennya ga ngerepotin siapa-siapa. Kalo masih sanggup pengen gua rasain sendiri tuh anugrah dari Tuhan. Beneran dah. Soalnya gua paham banget "paling ga enak kalo ngurusin orang sakit, apalagi kalo ampe harus nyebokin". Tapi ada ga sih orang sakit yang kagak ngerepotin orang lain, apalagi tuk orang yang kagak mau direpotin.

Penyakit kan ga pernah pandang bulu. Dia juga ga pernah milih-milih korbannya. Kalo dia mo dateng, ya dia pasti nongol. Kalo dia mo hinggap, ya dia pasti nemplok. Kalo dah gitu, paling kita cuma bisa pasrah sambil ngerasain tuh gerogotannya. Kadang ada yang ampe teriak. Nangis dan nyesel. Pokoknya jarang banget dah, mungkin malah ga ada, kalo ada orang yang pengen bertemen ama penyakit. Dokter aja gua rasa kagak mau.

Ah, emang anugrah Tuhan yang satu itu kadang-kadang menyakitkan.

mercoledì, maggio 21, 2003

Mencintai yang Spesial

Menyakitkan, memang. Mencintai seseorang yang tak pernah bisa mencintai. Ah, tapi itu masih lebih indah ketimbang mencintai namun tak pernah menemukan kebaranian untuk memberitahukannya. Benar, hanya perlu satu menit untuk menghancurkan. Satu jam untuk menyukai. Satu hari untuk mencintai. Tapi, yakinlah, perlu waktu seumur hidup untuk melupakan.

Mungkin, Tuhan menginginkan ada pertemuan yang tidak tepat sebelum bertemu. Jadi ketika pada akhirnya bertemu yang tepat, Anda akan menyadari betapa berharganya anugrah tersebut. Ehm, sepertinya cinta adalah bersatunya perasaan, kesabaran, romantis, dan kepedulian. Sebaliknya, hal menyakitkan ketika menemukan yang begitu berarti tapi hanya untuk mengetahui semua tak berarti. Dan, membiarkannya pergi.

Sewajarnya, ketika pintu kebahagiaan tertutup, ada pintu lain terbuka. Persoalannya, terkadang kita terlalu lama menatap pintu yang sudah tertutup, sehingga tak dapat melihat pintu lain yang terbuka. Teman terbaik adalah rekan di mana kita merasa terbuai duduk bersamanya. Dia tak pernah mengatakan apa-apa. Untuk kemudian jalan bersama beriringan. Duh, mungkin percakapan termanis yang pernah terasa.

Benarlah, kita tak pernah tahu apa yang didapat sampai kehilangan. Tapi, benar juga, kita tak akan pernah menyadari yang hilang sampai itu benar-benar ada. Memberikan semua cinta tak pernah menjamin selalu dicinta. Jangan pernah mengharapkan cinta sebagai balasan. Paling tidak, tunggulah sampai itu tumbuh di dalam hati. Namun bila pun tidak, pastikan cinta tumbuh di dalam hatimu.

Demikian pula, jangan pernah berkata selamat tinggal bila masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata sudah tidak mencintai bila tidak bisa membiarkannya pergi. Cinta datang kepada yang masih mempunyai harapan, meski telah dikecewakan. Kepada yang masih percaya walau telah dikhianati. Kepada yang masih ingin mencintai meski sudah disakiti. Sebelumnya dan kepada yang mempunyai keberanian serta keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.

Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang. Datanglah kepada yang bisa membuatmu tersenyum. Soalnya sebuah senyuman dapat membuat gelap menjadi cerah. Dan, carilah...

sabato, maggio 17, 2003

Shalawat Barzanji

Salatullah..Salamullah, Allatoha..Rasulallah, Salatullah..Salamullah, Lilalibat Riyaallah. Sedetik ke depan panggung senyap. Alunan rabana berhenti. Sepi. Namun itu tak lama. Sejurus kemudian, tampil sesosok perempuan dengan busana hitam-hitam. Sejenak dia melenggak-lenggok di atas panggung, sampai akhirnya terjerembab. Bruuk. Dan dia merancu dalam suara serak:

"Namaku Zaitun.
Hidupku seperti malam.
Jiwaku gamang
mengembara di kegelapan tanpa bintang.
Tanganku menggapai..tanpa pegangan.

Aku merindukan matahari.
Aku merindukan bisikan kalbuku sendiri.
Tetapi kalbuku beku..dan bisu.

Hidupku dangkal.
Aku dilanda banjir informasi
yang heboh, yang gaduh,
yang mendorong untuk beraksi dan bereaksi,
tanpa kesempatan untuk kontemplasi.

Kata zaman:
Kita harus tangkas dan tegas.
Harus selalu jadi pemenang.
Jangan jadi pecundang.
"Stand tall!" atau kamu akan menjadi "nobody!"

Kerahkan kemauan!
Di mana ada kemauan di situ ada jalan!
Jalan apa saja! Cara apa saja!
Pilihlah: jadi pemenang atau pecundang!
Pecundang itu bego.
Pecundang itu selalu dilanda zaman.
Pilihlah: membantai atau dibantai!

Dan untuk selalu menang.
Orang harus memupuk dan menimbun.
Akhirnya menjadi semakin kuat dan semakin kaya.
Setiap saat harus selalu berjaga-jaga.
Orang lain menjadi musuh.
Terutama orang miskin harus kita curigai.
Bah! Ini semua membuat jiwaku dilanda was-was.

Lalu, saudara-saudariku,
Aku mendengar kasidah dan shalawatan.
Aku mendengar kisah
dan cakrawala yang kamu bentangkan.
Akhirnya aku membaca:
Sirah Muhammad Rasulullah.

Bulan purnama muncul!
Bulat sempurna.
Bau wangi menegur sepi.
Keramahan membawa kehangatan dan kedamaian".

****************

"Ken...!" Ken Zuraida lengkapnya. Dialah pemilik suara serak dalam monolog Shalawat Barzanji yang dipentaskan 11, 12, dan 13 Mei 2003 di Hall Bulutangkis Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan. "Selamat..selamat", kataku singkat kepadanya seusai pementasan. Sehabis itu, hampir satu per satu kusalami aktor pertunjukan tersebut. Aku pun ikut melebur dalam suasana meriah yang mereka ciptakan. Ada peluk cium. Sorak-sorai. Dan, canda tawa. Pendek kata: meriah.

"Cit..lo pulang ke mana?" teriak Isaias Sadewa di kejauhan. "Gua mo ke Blok M", jawab yang ditanya. Akhirnya kami pulang bareng. Satu mobil. Dalam mobil ada tujuh kepala termasuk aku. Di belakang kemudi Pak Gareng. Di sebelahnya si "Burung Merak" Rendra. Di kursi tengah: Ken, Isaias, dan Jay. Di belakang, aku dan Ocit.

Di tengah perjalanan Rendra memecah kesunyian. "Cit..gimana pertunjukkan tadi". Agak gagap Ocit menjawab "Luar biasa om [Willy]! Banyak kejutan". Yah, memang singkat kebersamaan itu. Karena aku dan Ocit memutuskan berpisah dan turun di depan Komdak. "Ga ke rumah aja Cit? Hati-hati ya?" pesan Rendra.

Belakangan baru ku tahu, Ocit alias Abdul Rosyid begitu akrab dengan keluarga aktor teater termasyur ini. Itu pun setelah dia panjang lebar bercerita. Mulai dari perkenalannya dengan Isaias--putra sulung Rendra dari Ken--, Rendra, dan Ken Zuraida--istri ketiga Rendra. Malam itu banyak sekali dia berdongeng, termasuk persinggungannya dengan Bengkel Teater. Pendeknya, cukup lumayan lah Cit...

venerdì, maggio 09, 2003

Gung...Gung!

malem ini si Agung Binarko ngotot "Divisi 101 Airbone Amerika Serikat pasukan elite AU AS". Gua bilang bukan. "Itu pasukan penerjun Angkatan Darat AS yang baru dibentuk pas Perang Dunia II baru mo pecah". Eh yang namanya Abi tetep kekeh. Dia masih nggak percaya ama keterangan gua. Sampai-sampai dia buka google.com cuma mo ngebuktiin kalo argumennya dia yang paling benar. Untungnya, pas perdebatan gua ma Agung ga berujung dateng Kang Ivan. Lantas untuk ngeyakinin diri, Agung tanyain tuh masalah ma Kang Ivan. "Bang Airbone itu pasukan elite angkatan udara atau angkatan darat AS". Ditanya kayak gitu, Kang Ivan ngejawab. "Angkatan Udara AS itu baru ke bentuk setelah PD II berakhir. AU-nya AS ma AU-Indonesia aja tua`an Indonesia"..jadi Airbone itu pasukan elite AD AS. Denger jawaban Kang Ivan si Abi cuma masam-mesem aja. "Kirain Airbone itu pasukan elite AS Kang!"...Lu si Gung nggak pernah percayaan ama omongan kita..